Sains & Riset

Jika Manusia Mampu Hidup di Permukaan Matahari, Bakal Dihadiahi Pemandangan Bintang Jatuh yang Menakjubkan

MILEZONE.ID – Para astronom menemukan fenomena yang menyebabkan Matahari membentuk benda-benda besar yang mirip dengan meteor atau ‘bintang jatuh’ di bagian paling luar dari atmosfernya, yang disebut korona. Meteor itu kemudian jatuh kembali ke permukaan dengan kecepatan hampir 225.000 mph.

“Jika manusia adalah makhluk asing yang mampu hidup di permukaan Matahari, kita akan terus dihadiahi pemandangan bintang jatuh yang menakjubkan,” kata Patrick Antolin, ahli astrofisika yang memimpin penemuan tersebut dalam pernyataanya, seperti dilansir dari Mashable, Kamis (6/7/2023).

Benda-benda itu terbentuk dan disebut sebagai ‘hujan korona’, terbuat dari plasma api – bukan air – yang telah melalui proses pendinginan dan kondensasi yang drastis seperti presipitasi. Para ilmuwan menemukan penurunan suhu secara tiba-tiba di korona Matahari dapat menyebabkan materi menggumpal menjadi bola padat dengan lebar lebih dari 150 mil.

Gravitasi kemudian menarik gumpalan kembali ke matahari, memanaskan gas di bawahnya hingga satu juta derajat selama beberapa menit saat jatuh, menurut penelitian terbaru yang akan diterbitkan dalam jurnal sains Astronomi dan Astrofisika.

Makalah ini akan dimasukkan dalam edisi khusus publikasi yang didedikasikan untuk Solar Orbiter, sebuah misi kolaboratif Badan Antariksa Eropa (European Space Agency/ESA) dan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (National Aeronautics and Space Administration/NASA).

Pesawat ruang angkasa mendekati Matahari musim semi lalu, mengambil foto paling tajam dari selubung gas yang menyelimuti bintang, termasuk gambar detail pertama dari gumpalan hujan koronal.

“Hanya mendeteksi hujan koronal merupakan langkah maju terbesar untuk fisika Matahari karena memberi kita petunjuk penting tentang misteri Matahari utama, seperti bagaimana ia memanas hingga jutaan derajat,” sebut Antolin.

Pengorbit sedang mempelajari aktivitas magnetik Matahari dan apa yang disebut angin Matahari, gas yang mengalir dari Matahari yang menyebabkan ‘cuaca antariksa’. Saat ini, para ilmuwan memiliki kemampuan terbatas untuk meramalkan peristiwa cuaca luar angkasa, yang dapat mengganggu jaringan listrik, telekomunikasi, dan sistem GPS.

Pengorbit juga mencoba mencari tahu apa yang menyebabkan panas ekstrem korona. Meskipun korona berada jutaan mil dari permukaan matahari, atmosfer luar ini ratusan kali lebih panas.

Meskipun Antolin dan tim telah membandingkan gumpalan hujan koronal ini dengan meteor, tapai inilah perbedaannya:

– Meteor bisa sekecil kerikil atau pasir yang terbang melintasi angkasa dan menghantam atmosfer Bumi. Garis fana disebabkan oleh batu yang bergerak sangat cepat – rata-rata 45.000 mph, menurut NASA – yang berkobar saat membombardir udara di sekitar planet.

Biasanya, meteor terbakar sebelum menyentuh tanah. Mereka mencapai sekitar 3.000 derajat Fahrenheit karena gesekan udara saat jatuh melalui atmosfer, dan hancur. Tapi korona Matahari tipis dan rendah kepadatannya dan tidak mendidihkan banyak material dari gumpalan tersebut. Para ilmuwan berpikir sebagian besar ‘bintang jatuh’ matahari berhasil sampai ke permukaan matahari.

– Gumpalan korona mungkin tidak memiliki ekor cerah seperti meteor, membuatnya lebih sulit untuk diamati di Matahari. Di atmosfer Bumi, batuan luar angkasa yang jatuh meninggalkan jejak panas dari bahan yang menguap. Di korona matahari, gas yang jatuh mengikuti garis medan magnet. Kompresi dan panas di bawah gumpalan membuatnya tetap utuh.

Tetap saja, Solar Orbiter telah mengungkapkan gumpalan hujan ini cukup menarik perhatian, menyebabkan cahaya yang singkat dan kuat, meledakkan material, dan mengirimkan gelombang kejut yang memanaskan kembali gas di atasnya. Hal baiknya adalah kita tidak bisa mengalami hujan meteor Matahari di Matahari, seperti yang dibayangkan Antolin. “Kita harus berhati-hati dengan kepala kita,” guraunya.

Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *