Hardnews

Tergiur Harga Murah di Facebook, Warga Tanjung Priok Kehilangan Rp3 Juta Akibat Rental Mobil Fiktif

Jakarta,Milezone.id – Kejahatan siber berkedok usaha rental mobil kembali memakan korban. Seorang warga Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rasito (35), harus merelakan uang sebesar Rp3 juta setelah menjadi korban penipuan rental mobil fiktif yang dipromosikan melalui media sosial Facebook.

Peristiwa tersebut bermula ketika Rasito berencana menyewa mobil untuk kebutuhan mudik dan berlibur bersama keluarga ke kampung halamannya di Cilacap, Jawa Tengah. Karena belum memiliki langganan jasa rental kendaraan, ia mencoba mencari informasi melalui media sosial.

Dalam pencariannya, Rasito menemukan akun usaha rental mobil bernama M Rentcar yang menawarkan berbagai pilihan kendaraan dengan harga sewa yang dinilai cukup terjangkau. Komunikasi kemudian berlanjut melalui aplikasi WhatsApp.

Pihak yang mengaku sebagai pengelola rental tersebut menampilkan sejumlah foto kendaraan, daftar harga, hingga informasi yang terlihat meyakinkan. Setelah berdiskusi, Rasito sepakat menyewa satu unit mobil Honda Brio dengan tarif Rp250 ribu per hari untuk jangka waktu dua minggu.

“Saya mau sewa rental mobil selama dua minggu untuk keperluan liburan ke kampung halaman. Harga sewanya Rp250 ribu per hari dan pihak rental meminta pembayaran dilakukan melalui transfer,” ujar Rasito saat ditemui di kawasan Jalan Tongkol Raya, Tanjung Priok, Minggu (14/6/2026).

Karena merasa yakin dengan informasi yang diberikan, Rasito kemudian mentransfer uang sebesar Rp3 juta sebagai biaya sewa kendaraan. Namun, masalah mulai muncul ketika kendaraan yang dijanjikan akan dikirim ke rumahnya pada Minggu siang tak kunjung datang.

Upaya menghubungi pihak rental melalui WhatsApp juga tidak membuahkan hasil. Nomor kontak yang sebelumnya aktif mendadak tidak bisa dihubungi.

Merasa ada yang tidak beres, Rasito memutuskan mendatangi alamat usaha yang tertera dalam percakapan WhatsApp, yakni di kawasan Jalan Tongkol Raya, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Namun setibanya di lokasi, ia justru mendapati fakta mengejutkan.

Tidak ada usaha rental mobil bernama M Rentcar di alamat tersebut. Sejumlah pelaku usaha rental yang berada di kawasan itu juga mengaku tidak mengenal nama perusahaan yang disebutkan oleh korban.

“Waduh, saya sudah ketipu. Awalnya saya percaya karena mereka menampilkan data-data dan foto-foto rental mobil yang terlihat meyakinkan. Saya pikir usaha itu benar-benar ada,” kata Rasito dengan nada kecewa.

Ia mengaku kejadian tersebut merupakan pengalaman pertamanya menyewa kendaraan melalui media sosial. Ketidaktahuannya mengenai mekanisme transaksi rental mobil membuat dirinya mudah percaya terhadap pelaku.

“Saya baru pertama kali mau sewa mobil rental. Karena belum pernah, saya tidak tahu harus cek apa saja. Ternyata yang saya hubungi hanya akun palsu yang memanfaatkan media sosial untuk menipu,” ujarnya.

Kasus yang dialami Rasito menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap berbagai modus penipuan digital yang kini semakin marak, terutama menjelang musim liburan ketika kebutuhan transportasi meningkat.

Menanggapi maraknya kasus serupa, pemilik Amanah Rentcar Jakarta, Ady Supriatna (41), mengungkapkan bahwa calon penyewa yang belum berpengalaman sering kali menjadi target utama para pelaku rental mobil fiktif.

Menurutnya, pelaku biasanya memasang iklan di media sosial dengan harga jauh lebih murah dibandingkan tarif pasar agar dapat menarik perhatian calon korban.

“Calon customer yang baru pertama kali menyewa mobil biasanya menjadi sasaran empuk. Mereka tergiur harga murah dan langsung melakukan transfer tanpa memastikan keberadaan usaha rental tersebut,” kata Ady.

Ady mengingatkan masyarakat untuk menerapkan prinsip ‘Pantau, Cocok, Bayar’ sebelum melakukan transaksi penyewaan kendaraan.

“Pastikan lokasi rental benar-benar ada, cocokkan identitas usaha dengan alamat yang diberikan, lalu lakukan pembayaran setelah semuanya jelas. Jangan pernah transfer uang hanya berdasarkan komunikasi di media sosial atau WhatsApp,” tegasnya.

Ia juga menyarankan masyarakat untuk melakukan survei langsung ke lokasi usaha rental atau setidaknya meminta bukti legalitas usaha yang dapat diverifikasi.

Menurut Ady, salah satu ciri rental mobil fiktif adalah menawarkan tarif yang jauh di bawah harga normal pasar. Strategi tersebut sengaja digunakan untuk memancing korban agar segera mentransfer uang.

“Biasanya mereka mempromosikan harga yang sangat murah dibandingkan rental resmi. Karena tergoda harga rendah, banyak orang akhirnya tidak melakukan pengecekan lebih lanjut dan berujung menjadi korban penipuan,” jelasnya.

Kasus yang menimpa Rasito kini menjadi pelajaran berharga bagi dirinya dan keluarganya. Bersama pihak keluarga, ia tengah berkoordinasi untuk menentukan langkah lanjutan setelah mengetahui bahwa usaha rental yang ditemukan melalui Facebook tersebut ternyata tidak pernah ada.

Masyarakat diimbau untuk selalu memverifikasi identitas usaha, mengecek ulasan pelanggan, melakukan survei lokasi, serta menghindari pembayaran penuh di muka kepada penyedia jasa yang belum terverifikasi guna menghindari kerugian akibat maraknya praktik rental mobil fiktif di media sosial.(Khairul)

Show Comments (0)
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *