Hardnews

Sudin SDA Kepulauan Seribu Fokus peningkatan Infrastruktur: BWRO, SPALD, Hingga Penahan Abrasi

Jakarta,Milezone.id -Suku Dinas Sumber Daya Air (Sudin SDA) Administrasi Kabupaten Kepulauan Seribu memfokuskan program kerja tahun 2026 pada peningkatan layanan air bersih, pengelolaan air limbah domestik, serta penguatan perlindungan wilayah pesisir dari ancaman abrasi. Salah satu proyek strategis yang tengah dipersiapkan adalah peningkatan kapasitas instalasi Brackish Water Reverse Osmosis (BWRO) di Pulau Kelapa guna memenuhi kebutuhan air minum masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air Administrasi Kabupaten Kepulauan Seribu Frans Siahaan saat ditemui di Kantor Sudin SDA Kabupaten Kepulauan Seribu, Jalan Balai Pustaka, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (11/6/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Frans didampingi Kepala Subbagian Tata Usaha Sudin SDA Administrasi Kabupaten Kepulauan Seribu, Geofrey Recoice Novena.

Menurut Frans Siahaan, ketersediaan air bersih masih menjadi salah satu isu strategis di wilayah kepulauan mengingat keterbatasan sumber air baku dan kondisi geografis yang berbeda dengan wilayah daratan Jakarta.

“Tahun ini kami fokus pada peningkatan kapasitas BWRO di Pulau Kelapa. Infrastruktur dasarnya sudah ada, namun kapasitasnya perlu ditingkatkan agar pelayanan kepada masyarakat semakin optimal. Kami menargetkan proses pengadaan dapat berkontrak pada awal Juli 2026 sehingga pekerjaan bisa segera berjalan,” ujar Frans Siahaan.

BWRO merupakan sistem pengolahan air yang memanfaatkan sumber air payau dari sumur yang kemudian diolah menjadi air layak minum melalui teknologi reverse osmosis. Sistem ini berbeda dengan SWRO (Sea Water Reverse Osmosis) yang mengolah air laut secara langsung dan mendistribusikannya ke rumah-rumah warga melalui jaringan perpipaan.

Frans menjelaskan, selama ini layanan BWRO menjadi salah satu solusi penyediaan air minum bagi masyarakat di sejumlah pulau berpenghuni. Warga biasanya membawa galon ke instalasi untuk diisi air hasil pengolahan sebelum digunakan untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.

“Mulai Januari 2026 operasional BWRO telah diserahkan kepada PAM Jaya sebagai operator layanan air minum. Sudin SDA kini berperan pada pembangunan dan peningkatan infrastruktur pendukungnya. Dengan sinergi ini diharapkan pelayanan kepada warga menjadi lebih profesional dan berkelanjutan,” kata Frans.Pulau Kelapa Jadi Prioritas Peningkatan Kapasitas Air Bersih

Peningkatan kapasitas BWRO tahun ini dipusatkan di Pulau Kelapa yang menjadi salah satu kawasan padat penduduk di Kepulauan Seribu. Keberadaan fasilitas tersebut dinilai penting untuk menjamin akses masyarakat terhadap air minum yang aman dan berkualitas.

Frans menegaskan bahwa pemanfaatan air tanah di wilayah kepulauan harus dilakukan secara hati-hati karena berpotensi menimbulkan dampak lingkungan apabila dilakukan secara berlebihan.

“Pengambilan air tanah di pulau tidak bisa sembarangan. Titik-titik sumur sudah ditetapkan sejak lama dan penggunaannya harus terkendali agar tidak menimbulkan penurunan muka tanah maupun gangguan lingkungan lainnya. Karena itu yang kami lakukan adalah meningkatkan kapasitas instalasi yang sudah ada,” jelasnya.

Selain BWRO, sistem SWRO yang dibangun sejak beberapa tahun lalu juga terus beroperasi untuk melayani kebutuhan air bersih masyarakat melalui jaringan perpipaan yang dikelola PAM Jaya.Fokus Perawatan Tanggul dan Penanaman Mangrove

Di sektor pengamanan pantai, Sudin SDA Kepulauan Seribu pada tahun ini tidak mengalokasikan pembangunan tanggul baru. Namun demikian, perawatan dan penguatan infrastruktur eksisting tetap menjadi prioritas guna menjaga pulau-pulau kecil dari ancaman abrasi.

Frans mengatakan pihaknya telah menyiapkan pengadaan material berupa kubus masif dan kubus berongga atau breakwater yang akan digunakan untuk memperkuat struktur perlindungan pantai.

“Walaupun tidak ada pembangunan tanggul baru, kami tetap melakukan pemeliharaan tanggul yang sudah ada. Material seperti kubus masif dan breakwater sangat penting untuk menjaga garis pantai agar tidak terus tergerus gelombang laut,” ujarnya.

Kubus masif berfungsi sebagai penahan abrasi yang dipasang di tepi pantai, sedangkan breakwater ditempatkan di area perairan untuk memecah gelombang sebelum mencapai daratan.

Selain infrastruktur fisik, Sudin SDA juga mengedepankan pendekatan berbasis lingkungan melalui program penanaman mangrove yang akan dilaksanakan melalui mekanisme swakelola tipe 4 dengan melibatkan kelompok masyarakat pesisir.

Menurut Frans, lokasi penanaman mangrove masih dalam tahap kajian teknis guna memastikan tingkat keberhasilan tumbuh tanaman dan efektivitasnya dalam mengurangi dampak abrasi.

“Kami tidak ingin hanya menanam secara seremonial. Lokasinya harus benar-benar dikaji agar mangrove dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat jangka panjang bagi perlindungan pantai,” katanya Kelola Air Limbah untuk Lindungi Ekosistem Laut

Selain memastikan ketersediaan air bersih, Sudin SDA Kepulauan Seribu juga terus memperkuat pengelolaan air limbah domestik melalui Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik (SPALD).

Frans menjelaskan, pengelolaan limbah di wilayah kepulauan memiliki tantangan tersendiri karena pembuangan limbah rumah tangga secara langsung berpotensi mencemari laut dan merusak ekosistem pesisir.

“Di pulau-pulau, laut adalah ruang hidup masyarakat. Karena itu limbah domestik tidak boleh dibuang sembarangan. Melalui SPALD, limbah rumah tangga diolah terlebih dahulu hingga memenuhi standar sebelum dialirkan kembali” jelas Frans.

Saat ini fasilitas SPALD telah tersedia di sejumlah pulau berpenghuni, antara lain Pulau Untung Jawa, Pulau Lancang, Pulau Tidung, Pulau Pramuka, Pulau Panggang, Pulau Kelapa, Pulau Kelapa Dua, dan Pulau Harapan.

Keberadaan fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas lingkungan sekaligus mendukung pengembangan kawasan wisata dan permukiman yang berkelanjutan di Kepulauan Seribu.Didukung Lebih dari 300 Personel Satgas

Untuk menjalankan berbagai program tersebut, Sudin SDA Kabupaten Kepulauan Seribu didukung sekitar 312 personel Satuan Tugas (Satgas) SDA yang tersebar di 10 pulau.

Personel tersebut dibagi ke dalam dua bidang utama, yakni Seksi Pengamanan Pantai serta Seksi Pengelolaan Air Bersih dan Air Limbah. Mereka bertugas melakukan pemeliharaan infrastruktur pesisir, pengawasan fasilitas pengolahan limbah, hingga mendukung operasional sarana sumber daya air di wilayah kepulauan.

Frans menegaskan bahwa keberadaan satgas menjadi ujung tombak pelayanan pemerintah di lapangan karena kondisi geografis Kepulauan Seribu membutuhkan respons cepat dan pemantauan yang berkelanjutan.

“Kami terus berupaya memastikan seluruh infrastruktur sumber daya air di Kepulauan Seribu berfungsi optimal. Baik untuk kebutuhan air bersih, pengelolaan limbah, maupun perlindungan pantai dari abrasi. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan di Kepulauan Seribu,” pungkas Frans Siahaan.(Khairul)

Show Comments (0)
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *