Denpasar,Milezone.id— Ancaman penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET) di kalangan pelajar menjadi perhatian serius dalam Talkshow “Segitiga Ekosistem Perlindungan Anak” di Gedung Presisi Polda Bali, Jumat (24/4). Kegiatan ini menekankan pentingnya kolaborasi keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam memperkuat ketahanan ideologi generasi muda.
Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, S.Sos menyoroti ancaman ekstremisme yang kini masuk hingga ke ruang privat anak melalui perangkat digital.
“Ancaman ekstremisme hari ini tidak lagi konvensional, tetapi sudah masuk ke ruang digital bahkan hingga ke kamar tidur anak-anak melalui gadget,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa pencegahan harus dimulai dari keluarga sebagai unit terkecil. Kemendukbangga/BKKBN, kata Isyana, telah menjalankan sejumlah program strategis seperti Bina Keluarga Remaja (BKR) yang membekali orang tua dalam memahami dinamika remaja dan membangun komunikasi yang sehat. Selanjutnya program Generasi Berencana (Genre) yang mendorong remaja menjadi agen perubahan melalui aktivitas positif dan edukatif.
Wamen Isyana juga menyoroti pentingnya kehadiran figur ayah melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) sebagai bagian dari penguatan pengasuhan.
“Peran keluarga, termasuk kehadiran ayah, sangat penting untuk membangun kelekatan emosional dan mencegah anak mencari validasi dari lingkungan yang berisiko,” katanya.
Wamen Isyana menambahkan, kerentanan remaja terhadap pengaruh negatif juga dipengaruhi faktor psikologis dan perkembangan otak yang belum matang, sehingga memerlukan pendekatan edukatif, bukan semata pendekatan keamanan.
Kapolda Bali Irjen Pol Daniel Adityajaya menyebut ancaman radikalisme kini semakin nyata dan menyasar anak-anak. Data Densus 88 menunjukkan 110 anak di Indonesia terpapar paham radikal pada 2025, termasuk dua kasus di Bali.
“Ancaman tersebut nyata, dekat, dan dapat menyasar siapa saja, termasuk anak-anak yang masih dalam proses pencarian jati diri,” ujarnya.
Kepala Datasemen Khusus 88 AT Polri dalam sambutannya yang dibacakan Wakapolda Bali Brigjen Pol I Made Astawa menambahkan, pola penyebaran radikalisme kini bergeser ke media sosial yang lebih sulit dideteksi dan menyasar generasi muda.
“Saat ini penyebaran paham radikal memanfaatkan media sosial yang lebih sulit dideteksi dan tetap menyasar anak-anak muda yang rentan,” katanya.
Gubernur Bali I Wayan Koster menegaskan bahwa ancaman ideologi tersebut harus dihadapi dengan pendekatan yang komprehensif dan berbasis nilai. Ia menyoroti pentingnya konsep Jnana Kerti dalam pembangunan manusia Bali.
“Jnana Kerti menegaskan pembangunan manusia Bali yang cerdas, berkarakter, berempati, serta memiliki tanggung jawab sosial dan kesadaran kebangsaan yang kuat,” ujarnya.
Menurut Koster, perlindungan anak tidak boleh dipandang sebagai program semata, melainkan bagian dari pembangunan peradaban jangka panjang.
“Tantangan kita hari ini bukan hanya mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi memastikan kecerdasan tersebut berjalan seiring dengan nilai, moral, dan karakter,” tegasnya.
Talkshow ini merupakan bagian dari strategi pencegahan berbasis edukasi yang bertujuan memperkuat deteksi dini di lingkungan sekolah dengan melibatkan kepala sekolah, guru, siswa, serta pemangku kepentingan lainnya.,(Red)






