Sains & Riset

6 Sesar Aktif di Jawa Barat Saat Gempa Bumi Berulang

Peringatan Atas 6 Sesar Aktif di Jawa Barat Saat Gempa Bumi Berulang-ulang

MILEZONE.ID – Jawa Barat dikenal sebagai salah satu daerah rawan gempa bumi di Indonesia. Hampir setiap tahun, terdapat gempa yang mengguncang Jawa Barat secara berturut-turut mulai dari Sumedang, Pangandaran, Garut, Bogor, hingga terasa ke beberapa daerah lain, termasuk Bandung dan sekitarnya. Menurut laman berita Universitas Padjadjaran, banyaknya gempa yang terjadi dalam waktu berdekatan ini menandakan bahwa wilayah Jawa Barat menyimpan potensi sesar yang belum terpetakan.

Sesar aktif di Jawa Barat yang salah satunya menjadi penyebab gempa di Sumedang, dipicu oleh proses tumbukan lempeng tektonik Indo-Australia di selatan Jawa yang berlangsung terus-menerus. Dosen Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran, Ismawan menjelaskan bahwa dampak tumbukan tersebut menghasilkan energi kinetik yang menyebar ke bidang-bidang lemah, di mana terjadi pergerakan sesar. “Begitu ada bidang-bidang ‘lemah’, di situlah dia akan bergerak. Mungkin awalnya tidak bergerak karena masih bisa ditahan (oleh lempeng yang ada), begitu ada energi, jebol, di situlah terjadi gempa,” ujar Ismawan.

Meskipun sejumlah sesar aktif dan sesar kecil di Jawa Barat telah terpetakan, masih banyak potensi sesar yang belum teridentifikasi, seperti yang terjadi pada gempa di Cugenang, Cianjur, 2022. Dilansir dari laman Open Data Jabar, terdapat dua sumber gempa di Jawa Barat, yaitu dari laut dan daratan. Sumber gempa dari laut berasal dari subduksi, sesar dasar laut, zona megathrust, dan zona intraslab. Sementara itu, sumber gempa bumi dari daratan berasal dari enam sesar aktif, berikut adalah sesar-sesar tersebut.

6 Sesar Aktif di Jawa Barat

Pertama, Sesar Cimandiri yang merupakan patahan geser aktif sepanjang kurang lebih 100 kilometer. Sesar ini memanjang dari muara Sungai Cimandiri di Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, lalu mengarah ke timur laut melewati Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Subang. Sejumlah gempa pernah terjadi dan terkait dengan sesar ini antara lain gempa di Pelabuhanratu, Sukabumi, Cianjur.

Kedua, Sesar Cipamingkis yang melalui bagian timur wilayah Sukabumi dan wilayah Cianjur. Patahan ini menjadi salah satu yang aktif sejak tahun 2018. Puluhan gempa kecil di sekitar Sukabumi dikaitkan dengan patahan itu.

Ketiga, Sesar Lembang yang melalui Kota Cimahi, Lembang, dan Kota Bandung. Sesar Lembang memanjang di Bandung bagian utara. Dengan panjang mencapai 29 kilometer, kekuatan gempa pada Sesar Lembang berkisar antara 6,4 hingga 7,0 magnitudo.

Keempat, Sesar Garsela atau Garut Selatan merupakan salah satu sesar aktif di selatan Jawa Barat. Dari Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017, Sesar Garsela terbagi menjadi dua bagian. Segmen Kencana sepanjang 17 kilometer berarah barat daya, adapun segmen Rakutai sejauh 19 kilometer membentang searah timur laut. Kedua segmen itu pada peta digambarkan tidak saling menyambung atau terputus.

Kelima, Sesar Baribis yang menurut skripsi Kajian Struktur Geologi pada Zona Sesar Aktif Beribis di Segmen Sungai Cipanas Jawa Barat Bagian Utara, Universitas Gadjah Mada, merupakan salah satu zona sesar mayor di Jawa bagian barat yang mengikuti pola pulaunya. Ini membentang dari timur, jalurnya pun terbagi atas beberapa segmen bervariasi, seperti Sungai Cipanas, Ciremai, Jakarta di bagian selatan, dan Bekasi-Purwakarta di sisi timur. Zona Sesar Baribis segmen sungai Cipanas membentang dari Kadipaten hingga Subang sepanjang 60 kilometer. Zona ini membentang sepanjang sungai Cipanas, Jawa Barat. Adapun di Jakarta bagian selatan membentang sepanjang 25 kilometer.

Keenam, Sesar Citanduy yang merupakan patahan yang berada di dekat sungai Citanduy tepatnya berada di wilayah timur Jawa Barat. Sejumlah gempa pernah dikaitan dengan sesar itu, diantaranya gempa di Majenang, Ciamis dan Cilacap.

Karena banyaknya sesar yang aktif dan ada kemungkinan bisa bergeser kapan saja, maka masyarakat Jawa Barat masih perlu waspada dan mempersiapkan upaya mitigasi bencana.

Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *