Makassar, Sulawesi Selatan (6/5),Milezone.id– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus diperkuat sebagai langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia menuju visi Indonesia Emas 2045. Badan Gizi Nasional (BGN) Goes To Campus dibentuk dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman terhadap kebijakan dan implementasi Program MBG terutama dalam membangun kemitraan ilmiah.
Program BGN Goes to Campus digelar di Auditorium Prof. A. Amiruddin, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Selasa, (5/5). Kegiatan tersebut dihadiri oleh Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, Plt. Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama BGN, Gunalan, Direktur Sistem Pemenuhan Gizi BGN, Enny Indarty, Direktur Tata Kelola Pemenuhan Gizi BGN, Sitti Aida Adha Taridala, dan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Veni Hadju.
Secara strategis, kegiatan BGN Goes To Campus ini mempertegas bahwa Kedeputian Bidang Promosi dan Kerja Sama memiliki peran sentral dalam membangun kemitraan berbasis ilmiah guna memperkuat implementasi Program Makan Bergizi Gratis secara nasional dari Sabang sampai Papua.
Dalam kesempatannya, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang menegaskan bahwa program MBG lahir dari kepedulian terhadap kondisi masyarakat yang masih mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Gagasan besar di balik program MBG berangkat dari realitas sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
“Program MBG ini lahir dari rasa kepedulian dan keprihatinan yang mendalam. berawal dari ada ibu rumah tangga yang harus mencari makanan dari tempat yang tak layak demi hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Dari situlah muncul kesadaran bahwa negara harus hadir memberikan jaminan pangan yang layak bagi masyarakat, terutama anak-anak sebagai generasi penerus bangsa,” ujar Nanik.
Ia menambahkan, program MBG bukan sekadar agenda bantuan sosial, tetapi merupakan investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif di masa depan.
“MBG adalah intervensi strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Ketika anak-anak mendapatkan asupan gizi yang baik, maka mereka memiliki kesempatan tumbuh lebih sehat, lebih kuat, dan mampu bersaing di masa depan. Inilah fondasi penting menuju Indonesia Emas 2045,” tambah Nanik.
Meski begitu, Nanik juga mengakui bahwa program MBG masih tergolong baru sehingga evaluasi dan penyempurnaan terus dilakukan agar pelaksanaannya semakin optimal di berbagai daerah.
“Kami memahami bahwa program sebesar ini tentu membutuhkan proses penyesuaian. Masukan dari masyarakat menjadi bagian penting untuk memperbaiki sistem dan memastikan manfaat program benar-benar dirasakan secara luas,” jelasnya.
Dalam paparannya, Nanik juga menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan dukungan anggaran besar guna memastikan keberlanjutan program MBG. Anggaran tersebut diarahkan tidak hanya untuk pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga mendukung perputaran ekonomi masyarakat.
Ia mencontohkan bagaimana keberadaan program MBG mampu memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha lokal dan masyarakat sekitar. “Kami melihat ada pelaku usaha kecil seperti pembuat tahu yang produksinya meningkat karena permintaan bertambah. Ada juga ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan, kini mendapatkan pekerjaan dan mampu membantu kebutuhan keluarganya. Ini menunjukkan bahwa MBG memberi dampak sosial dan ekonomi yang nyata,” tuturnya.
Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo, kebijakan yang dibentuk BGN harus berbasis nilai-nilai ilmiah, maka peran perguruan tinggi menjadi fondasi utama dalam memastikan MBG tidak hanya berjalan, tetapi juga tepat, terukur, dan berdampak nyata.
Kegiatan BGN Goes To Campus sebelumnya juga telah dilaksanakan di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Indonesia (UI), dan akan terus dikembangkan di berbagai perguruan tinggi lainnya sebagai bagian dari penguatan kolaborasi berbasis ilmiah.(Red).






