Hardnews

AS Ancam Sita Uranium Iran, Teheran Menolak Keras, Negosiasi Buntu

WASHINGTON — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden Donald Trump menyatakan Washington akan mengambil alih stok uranium yang diperkaya milik Teheran “dengan satu atau lain cara”.

“Kami akan mendapatkannya. Kami tidak membutuhkannya, kami tidak menginginkannya. Mungkin akan kami hancurkan setelah itu, tetapi kami tidak akan membiarkan mereka memilikinya,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Pernyataan tersebut muncul hanya beberapa jam setelah Iran mempertegas sikapnya. Sumber senior di Teheran menyebutkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran telah memerintahkan agar uranium yang diperkaya tetap berada di dalam negeri dan tidak boleh dipindahkan ke luar.

Keputusan itu mencerminkan konsensus di dalam pemerintahan Iran bahwa pengiriman uranium ke luar negeri akan membuat negara tersebut rentan terhadap serangan di masa depan.

Saat ini, Iran diperkirakan memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen — tingkat yang mendekati kebutuhan untuk senjata nuklir jika diperkaya lebih lanjut. Sebagian besar stok tersebut diyakini tersimpan di fasilitas bawah tanah yang sebelumnya menjadi target serangan Amerika Serikat dan Israel pada Juni 2025.

Perbedaan tajam posisi kedua negara ini semakin memperumit upaya diplomatik yang tengah berlangsung. Pakistan dilaporkan meningkatkan peran mediasi untuk menghidupkan kembali perundingan yang terhenti sejak gencatan senjata 8 April lalu.

Kepala Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Asim Munir, disebut tengah mempertimbangkan kunjungan ke Teheran sebagai bagian dari upaya tersebut. Sementara itu, Iran masih menelaah respons terbaru dari Washington, dan Trump menyatakan bersedia menunggu “beberapa hari” untuk jawaban lebih lanjut.

Isu nuklir menjadi titik utama kebuntuan. Amerika Serikat menuntut Iran menyerahkan stok uranium yang diperkaya dan membongkar infrastruktur nuklirnya. Sebaliknya, Teheran menuntut pencabutan sanksi, kompensasi perang, serta penghentian blokade laut AS sebelum membahas isu nuklir.

Di tengah ketegangan tersebut, Trump juga menegaskan penolakannya terhadap rencana Iran menarik biaya dari kapal yang melintasi Selat Hormuz, yang disebutnya sebagai perairan internasional.

Krisis ini turut mengguncang pasar energi global. Harga minyak dilaporkan melonjak lebih dari 3 persen setelah pernyataan keras dari kedua pihak, di tengah kekhawatiran gangguan berkepanjangan terhadap jalur distribusi energi di Selat Hormuz.

Show Comments (0)
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *